Sabtu, 09 Februari 2013

Sajak Tentang Wanita

            Derap langkah menapak tanah, tanah yang basah dari hujan. Hari ini perasaanku sangat senang entah apa gerangan?. Buku itu sangat berarti buatku, banyak orang menangis kala sedih dan menghujat kala sengsara tapi mereka tak tahu hadiah apa yang aka di berikan segera.

            Ahirnya terungkap mengapa adam rela turun dari surga dan malu menatap dunia. Semuanya karna dia, dia yang merayunya,  membuat para setan bahagia. Dia yang menghiasi senyumnya kala letih menyapa. Dia dan dia, Dia yang membuat manusia terbaik di muka bumi tegak metap teriknya amarah dan beci. Dibalik senyumnya tersimpan mutiara bagi yang tulus mengambilnya, kadang dia menangis sedih karna bahagia. Entah mengapa tak ada rasa benci di hatinya,  hanya itu dan ku malu mengatakkannya.


            Dia setiap paginya, dia berdoa kepada zat yang menciptakan tulang rusuk sebagai tempat tinggalnya agar suatu saat ia bertemu dengan sang Adam walau hanya menatap dari balik kejauhan tertutup senyuman. Pagi itu dia tersenyum manis sekali sampai angin malu tuk berhembus rambutnya yang wangi, burung – burung menyanyikan lagu rindu di depan yang dia rindukan sungguh lucu sekali. Ada seekor semut menggigitnya sampai gerombolan burung bingung apakah suara mereka begitu jelek? Ternyata semut merah lah. 

            Tak tampak amarah apalagi keluh, yang ada senyuman tipis menahan sakit. Semutpun menagis karna begitu mulia hatinya. Kakinya begitu sakit, nampak merah dan pedis. Semut merasa sangat takut  tenggelam dalam tetesan air matanya. Anehnya dia tersenyum riang pada semut tadi dan di berinya sekerat roti yang manis. Awanpun terharu melihatnya.


            Di sela – sela hujan ada pemuda tampan dan rupawan bertanya. Bolehkah saya singgah di hatimu?. Dia lari sambil terharu pilu, tapi pemuda itu hanya terdiam dari kejauhan. Dia menatap dari jauh berharap pemuda itu mengejarnya namun malah sebaliknya. Ketika sepi menyelimuti, dia begitu kesepian. Seolah – olah berada dalam perut bumi yang gelap, lembab, sengap dan sendirian sambil mendekap. 


            Terdengar suara langkah kaki yang memecah keheningan. Siapa ? Ya siapa ? begitu lembut merasuk kalbu. Nampak seorang pemuda yang menatap tajam keseluruh tubuhnya seolah olah ingin menerkam bak serigala lapar. Menetes dari mulutnya entah apa ?. Melihat saja sudah membuat darah tak henti mengalir ke kepala. 


            Dia gemetar ketakutan, menagis minta tolong. Nafasnya seolah olah terengah – engah  seperti ternak yang  akan di sembelih. Semakin dekat, dekat dekat sekali pemuda laknat itu padanya. Terdengar teriakan sedih ke seluluruh penjuru.
            Seseorang berlari, tapi ?
            Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nanti di bales kok